Senin, 25 Februari 2013

Sajak Seorang Gadis Yang Kau Perawani Siang Tadi


 " kita akan bersama melukis angkasa "

kau demikian romantis memberi janji manis
dan kau berhasil membuat hatiku terbang ke angkasa
sebelum itu ternyata janjimu sudah di angkasa

" kita akan bercinta hingga malam sirna "

kau merayuku sesaat sebelum kita bercumbu
tak menunggu malam datang, siang tadi kita bercinta
sesudah itu ternyata kau yang segera sirna

Senin, 02 April 2012

Lampu Kota : Setelah Sekian Lama

sambungan edisi lalu,

" Kau akan mengenang hari ini, dengan sebuah cerita tentang seorang wanita yang membagi air mata dan duka sementara hujan akan kau tafsirkan sebagai bagian dari kesedihan berkepanjangan.Tapi aku yakin, kau belum mengerti mengapa sebuah hati itu selalu erat dengan misteri, hati tidak mau bersombong diri untuk menunjukkan betapa luas dan dalam isinya." Berhenti dia berkata, lalu membiarkan hening menyesakkan dadaku, demikian menyiksa lalu melanjutkan kotbahnya.   " Untung saja, hati tidak pernah menyombongkan dirinya. Mungkin kalian perlu belajar dari hati, untuk setidaknya mengerti ada hal-hal yang kalian tidak atau belum mengerti. " hening lebih menyiksa kini.

***

Hening yang menyiksa, hujan di luar pun semakin deras. Akhir dari sebuah perjamuan perlahan mulai menjelang. Mata wanita itu masih basah, resah masih terasa begitu sembab. Sementara aku tak bisa memproduksi kata, resah mendekam seperti pendosa menunggu pengampunan. Mengalir dari dalam sungai memori tentang Anita, tentang ilalang yang ku tinggalkan. Getar udara saat itu seperti menampar wajahku, membawa getar ke dalam rongga jantung dan paru-paru. Kamar hotel ini mendadak sesak, aku seperti sedang menghadapi seorang Romo dan mengakui dosa yang selalu kusangkal. Bahkan kalaupun kini aku mengerti, aku tak mampu sepenuhnya menerima.

" Kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama, dan semoga engkau tahu mengapa aku tahu segala tentangmu, bahkan aku tahu tentang Rio dan segala kisahnya bersama wanita-wanita yang bersinggungan denganmu itu juga jelas bukan sebuah kebetulan semata. Aku menunggu waktu untuk bisa bicara denganmu lagi dalam waktu lama, dan aku akan segera menghilang lagi dalam waktu lama. " Anita setengah bergetar bicara, setengah mengejutkanku.

" Maafkan aku tak mencarimu." singkat kujawab. Lalu Rio masuk ke dalam ruangan. " Mobil dan segala sesuatunya sudah siap Anita, kita harus segera berangkat ke Jakarta, agar tidak ketinggalan pesawat. Roma  menunggu kita."  dia berkata. " Kau tidak perlu mendengarkan penjelasanku mengapa aku pergi bersama lelaki ini, kau akan membacanya nanti. Selamat tinggal." Dia lalu berlalu, setelah mengemasi barang-barangnya yang sederhana saja. Berlalu bersama lelaki, yang entah mengapa dia bisa demikian mengenal perempuan-perempuan yang demikian ingin kupeluk erat. Mereka berlalu, sementara aku masih duduk terpaku kini kusadari aku seorang pendosa. " Ku tinggalkan sebuah surat untukmu, semoga kau sempat membaca." Anita menutup kotbah, lalu segera menutup pintu menyisakan hening yang kini membekukan semua luka, membuatnya abadi.

Kini mataku yang sembab, berdiri kuhampiri ranjang yang pernah menjadi saksi cintaku dengan Anita. Kurebahkan tubuh lelah, setelah semalam berdarah-darah di perjamuan yang membuatku kalah. Aku dikalahkan seorang wanita. Di sampingku kulihat selembar kertas, tanpa ku harus berpikir aku tahu ini surat Anita.

Maaf

Aku tahu kau akan membaca surat ini setelah kita sama-sama kalah
kau tak perlu membaca surat ini dengan tergesa, rebahkan tubuhmu yang lelah
agar kita tak berakhir sia-sia, biarkan jiwamu mengembang ke sebuah kisah
kisah tentangmu, tentangku. Tapi jangan kau cari siapa yang salah.

Terima kasih

kau menemukanku kembali, tanpa kau harus mencari
sementara aku berungkali mencarimu, meski yang kudapat adalah arti
karena ku yakin ketika ku menemukanmu, kau dan aku akan menjadi sendiri
harapanku semua masih akan berarti, ketika ku tak akan mencarimu lagi

Segera kulipat surat singkat itu dengan rapiKumasukan dalam dompet bersama dengan surat berharga lain. Ku kemasi barangku dan segera beranjak dari kamar kenangan ini. Aku ingin kemasi semua kenangan ini juga, sayang ruanganku tak cukup banyak untuk menampung semua itu.  Semoga dia bisa berjalan pulang, ketika suatu saat nanti aku membutuhkannya. Aku tegak, meski hatiku sembab. Yang sudah pernah dimulai pasti menemui akhir.

***

Pagi yang tak biasa, di kantin kampus. Aku tegak, hatiku masih sembab. " Tears down stream on your face. When you lost something you cannot replace. When you love someone but it go to waste. Could it be worse? ""    lagu itu menggema, sembab semakin terasa menjingga menenggelamkan matahari hatiku. Aku duduk di kantin yang sedang menjadi tak biasa bagiku, ketika semua terasa menjadi asing. Hanya ada serombongan yang kurasa tak asing, ada Erosz, Ave dan Tiara serta segalas kopi hitam dan sebungkus rokok. Kuaduk berkali-kali kopi yang sudah dingin, kubakar rokokku entah yang ke berapa. Ku tunggu keberanianku untuk sedikit muncul dan akan ku datangi rombongan itu. Aku masih manusia, ketika aku merasa takut, suara hatiku yang mencegahku mendatangi rombongan itu. Percuma kau sampai ke petualangan-petualangan di alam bebas, tapi hanya untuk bicara dengan seorang gadis kau tak berani, suara hatiku yang lain yang membuat hati sembabku bertambah sesak. Ingin kutinggalkan semua atribut diriku dan menjadi baru, tapi yang sudah terjadi tak bisa diulangi, dan telah terekam menjadi gambaran diri. Lalu entah darimana ada perintah untuk kakiku melangkah. Ku datangi mereka.

" Halo." ucapku kaku. " Eh, mas Andre. " jawab Erosz. " Hmmm, Ave apakah ada waktu saya ingin bicara." tanyaku seolah mengacuhkan dua makhluk Erosz dan Tiara. Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan, aku pun masih menduga-nduga apa yang akan Tiara rasa ketika tiba-tiba aku mengajak bicara Ave. Ku tepikan dulu urusanku dengan masing-masing dari mereka, aku kini sedang berurusan dengan wanita bernama Ave. " Ya, saya ada waktu. " dia menjawab dengan tegas, seperti biasa tidak ragu dan tidak mengumbar harapan. Erosz memberi kode ke Tiara, dan perlahan mereka pamit untuk pergi sejenak. Di sekitar kantin, mata sekelompok lelaki dengan konduktor Suryo mengarah ke kami dan seperti biasa sorak sorai menggema dan aku tak peduli.

" Kau bertemu dengan Rio?" kali ini aku nyata terkejut. " Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku setengah tak percaya bahwa dia dulu yang akan memulai pembicaraan, sementara sesungguhnya aku sedang sibuk mencari basa-basi basi. Dari dalam tasnya di keluarkan secarik kertas, memintaku membacanya.

Pertemuan

Kau tak perlu terkejut jika aku bertemu dengan lelaki itu, yang mungkin mencoba untuk membuka kabut hatimu. Kau tak perlu terkejut pula jika lalu Anita yang selama ini tempatku berlari mencari teduh pernah punya hal yang teramat istimewa dengan lelaki itu. Kami bertemu, bukan untuk memulai sesuatu kami bertemu untuk mengakhiri sesuatu. Seperti surat ini, semoga pun menjadi akhir dari pertemuanku denganmu, kita tak akan berjumpa dalam waktu lama, aku akan ke Roma kali ini dengan Anita. Semoga kelak kita akan membuka kembali pertemuan kita di sana, tapi sebagaimana lelaki itu tulis berulang-ulang, setiap pertemuan selalu ada akhir.

Hening yang menyiksa itu kini merasuk di antara aku dan Ave.

- bersambung.....

Senin, 05 September 2011

Lampu Kota : Perjamuan Air Mata dan Hujan

sambungan edisi lalu

Kulihat cermin besar di wastafel. Aku melihat diriku dengan utuh. Lalu ku buka keran. Kubasuhkan perlahan ke mukaku. Perlahan kututup mataku. Ketika kubuka kembali di belakangku sudah ada Anita. Berdiri di belakangku dan tersenyum. " Kamu kehilangan sesuatu Ndre?" tanyanya. " Kehilangan sesuatu?" aku kembali bertanya masih dalam kondisi setengah sadar. " Apakah kamu belum membuka matamu kembali? Apakah kamu bahkan tidak bisa melihat ke dalam dirimu?" jawabnya yang sejurus kemudian membuatku tergugah, bahkan wanita ini bisa melihat apa yang tak bisa kulihat dalam diriku. " Tidak Anita, tenang saja aku tidak kehilangan sesuatu karena bahkan aku tidak pernah memiliki sesuatu." ku jawab pelan. Lalu dia mendekat, sekarang dia ada di sampingku. Memandang cermin bersama. " Lihat baik-baik Ndre. " sambil menunjuk ke cermin. " Kau tidak kehilangan sesuatu bukan?" dia menoleh padaku sambil tetap tangannya menunjuk ke cermin, ke arah bayangannya. Aku pun memandang wajahnya. Masih seperti Anita dahulu. Nampak lugu meskipun jika anda percaya dia lugu maka anda sedang tertipu. Wajah yang tidak akan anda percayai bahwa wanita ini hanyalah wanita desa yang lugu dan hanya tahu kasur dan dapur. Lalu wajah itu semakin dekat dengan wajahku. Wajah kami cukup dekat hingga hidung kami saling bersentuhan lalu bibir kami.
***

Hening sejenak setelah bibir kami saling menyentuh. Kupandang mata itu, mata yang sedang mengujiku untuk membaca apa yang sedang terjadi. Aku tetap tidak mengerti, aku tetap tidak bisa membaca. Emosiku terlalu meledak, dan kini telah aku putuskan aku tidak akan membaca mata itu. Aku hanya akan mengikuti permainan ini, permainan yang jelas bukan sebuah kebetulan. Ku cium sekali lagi bibir itu, isyarat bahwa aku akan mengikuti permainan yang sedang dia mainkan. Lalu tiba-tiba pintu dibuka dan Rinjani masuk ke dalam ruangan ini. Kami berhenti sejenak, tapi seperti seolah tidak peduli Anita melanjutkan, tapi aku menolak dengan sebuah kecupan di kening. Yang membuatku heran adalah bahwa lelaki Rinjani ini pun seperti tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Dia mencuci muka dengan santai, lalu segera keluar lagi. Tak lama kemudian aku juga mengajak Anita keluar.

Di luar Rinjani sedang menata meja. Menata makanan yang sudah disiapkan beberapa saat yang lalu oleh pelayanan hotel. Sisa whisky semalam pun dia hidangkan. Selayaknya sebuah perjamuan hanya saja tanpa anggur. Makanan pagi yang terhidang sebuah masakan Jawa. Nasi, brongkos daging, lompia, dan jajanan pasar. Entah siapa yang memesan, tapi sudah dengan rapi ditata di meja oleh Rinjani. Aku menuang kopi ke cangkir putih yang sudah disiapkan. Kalau ada kopi tersaji, aku yakin ini Anita yang memesan. Sudah sekian lama ia tahu kebiasaanku untuk meminum kopi di pagi hari. kemudian aku merokok dulu. Memenuhi segenap ruangan ini dengan asapnya. Beberapa orang seperti aku mungkin merokok tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan, rokok sudah menjadi sebuah kewajiban. Kutawari Rinjani rokokku, tapi dia menolak. Dia tidak merokok, mungkin itu pulalah yang membuat Ave tertarik padanya. Selain harus kuakui orang ini memiliki kekuatan lain yang memancar dari gerak tubuhnya. Sampai saat ini masih tersisa pertanyaan menggantung di ubun-ubun kepalaku. Bagaimana lelaki ini bisa mengenal Ave, Amara, dan Anita.

" Masih sering mendaki gunung? " tanya Rinjani memecah kebekuan pagi ini. " Tidak, sudah jarang. Lagipula sudah lama sebutan pendaki gunung hilang dari namaku. " jawabku sambil menikmati secangkir kopi. " Lalu apa yang kau lakukan?" kembali dia melempar pertanyaan basa-basi. " Mencari wanita." jawabku singkat dengan nada datar. " Ave? " dia bertanya dengan nada tajam. " Sepertinya bukan. Kau pasti cukup tahu alasanku, " jawabku. " Tidak, aku tidak cukup tahu alasanmu. Kecuali kau berhenti menembus kabut yang entah itu. " jawabnya. " Dia terlalu baik, permata di balik kabut itu terlalu mulia. " jawabku. " Salah jika kau mengira demikian. " kami mulai berdebat. " Kalian ini membicarakan apa? " tanya Anita sambil mengambilkan kami nasi ke piring masing-masing. Dia seperti seorang Istri yang sedang memandikan dua orang suaminya.

" Bagiku kau hanya menutupi ketidakseriusanmu ketidaksungguhanmu pada Ave. " kata Rinjani datar dan dalam. " Maksudmu? " tanyaku seperti orang bodoh. " Tanyakan saja pada dirimu sendiri. Kau sendiri sedang bersama Magda waktu itu bukan?” tajam dan semakin membuatku heran. Lelaki macam apa dia ini dia benar-benar mengetahui segala sesuatu tentangku. “ Magda dan Ave, semuanya pun sama-sama bukan siapa-siapaku, cukup adil kan? “ Kuhembuskan bersama asap rokokku. “ Ya, atas semua yang kau lakukan pada Magda, kau sebut ini adil?” . “ Lihat dirimu juga, mana Tuhan yang kau cari itu? Lalu kau tinggalkan permata itu. Sayang tak ada kaca yang bisa bicara, jika ada pasti dia akan menamparmu, menamparku. “ kotbah pagi di depan meja makan, bertiga kami kembali hening. Dalam hati masing-masing kami berperang.

Aku berperang melawan keyakinannku sendiiri. Keyakinan untuk mencari pembenaran atas semua dosaku pada Magda. Seperti keyakinan seorang Rinjani, atas semua dosa yang dia lakukan pada Ave. Semua pada akhirnya hanyalah pembenaran, atas sebuah luka yang menjadi monumen abadi. Memandang ke Anita, matanya seolah berkata “ begitulah kalian lelaki”.

***

“ Besok aku pergi. “ sambil meminum susu coklat seusai memakan bakmi Jawa goreng. Bakmi Jawa tempat biasa, mengobrol dengan kebiasaanku menaruh siku di bahunya. Hari minggu yang melelahkan seusai resepsi pernikahan kakak perempuanku satu-satunya. Kusempatkan menemui Magda. Gadis kecil yang sejak semula, ada dalam masa-masa sulit dalam kehidupanku sebagai seorang ketua organisasi pecinta alam. “ Semoga kamu cepat kembali.” Singkat saja. Lalu malam itu kuhabiskan mengantarkan dia kembali ke asrama Katolik di mana dia tinggal. Malam yang kututup dengan kecupan hangat di keningnya. Detil kecil yang masih kurekam dalam-dalam secangkir kenanganku dengan Magda.
Sejak semula ada. Frasa yang ternyata lebih pantas kusematkan setelah akhir yang tak pernah ku bayangkan akan ku tulis dalam cerita singkat yang sangat jauh dengan si gadis. Sejak semula, memang soal harapan yang menggema di antara asa yang tak pernah utuh. Lalu jika kuulas lebih jauh semua hanya akan menjadi pembenaran kembali. Akhirnya memang harus duduk dan mengakui kembali. Ya aku yang salah.. Tapi tak sepenuhnya salah.

***

“ Kalian ini memperdebatkan apa?” Hening yang segera dipecah dengan suara Anita yang beku. “ Kalian sudah saling mengenal ternyata sebelum aku memperkenalkan. Tapi ternyata kalian sama-sama mengisi kabut kalian sendiri. “ segelas whisky dia tenggak, dia taruh gelas sloki itu, lalu kembali memulai kotbah. “ Kalian ini berhenti hanya sampai di puncak, tapi kalian tak pernah menemukan jalan turun. “ hening memenuhi kepalaku. “ Ave atau Amara hanyalah bagian kecil, yang mungkin kalian sampingkan dari ambisi kalian." diiringi tawa kecil yang dipaksakan. Perjamuan pagi, dengan sarapan yang belum sempat kami sentuh terburu-buru berubah beku, menjadi hambar sehambar pagi yang cepat berubah menjadi siang.

Sejurus kemudian Rinjani meninggalkan meja, mengangkat telepon yang berdering. Aku masih setia di meja, Anita juga tak beranjak dari sudut mata yang tak pernah tuntas ku baca. Ku coba memegang jemarinya, dia menghindar. Menghela nafas sejenak lalu aku berkata, " Kau tak pernah pergi kan Anita? " tanyaku membuka pembicaraan, lalu hening kembali. Lama sudut mata itu, menatap ke mataku, sebelum perlahan ku lihat tetesan air mata memenuhi sudut itu dan tumpah. Mengisi cawan duka, yang akan dia bagi di perjamuan ini. " Kalaupun aku menangis, bukan karenamu Andre. " dia berkata. Siang sudah buru-buru merajut mendung, dan menumpahkan hujan. Hujan pun turun di sudut awan, menjamu segenap asa yang menunggu. Perjamuan Air Mata dan Hujan, judul yang kutulis untuk mengenang hari ini. " Kau akan mengenang hari ini, dengan sebuah cerita tentang seorang wanita yang membagi air mata dan duka sementara hujan akan kau tafsirkan sebagai bagian dari kesedihan berkepanjangan.Tapi aku yakin, kau belum mengerti mengapa sebuah hati itu selalu erat dengan misteri, hati tidak mau bersombong diri untuk menunjukkan betapa luas dan dalam isinya." Berhenti dia berkata, lalu membiarkan hening menyesakkan dadaku, demikian menyiksa lalu melanjutkan kotbahnya.   " Untung saja, hati tidak pernah menyombongkan dirinya. Mungkin kalian perlu belajar dari hati, untuk setidaknya mengerti ada hal-hal yang kalian tidak atau belum mengerti. " hening lebih menyiksa kini.

--bersambung

Jumat, 20 Mei 2011

Lampu Kota : Ya Sudahlah

sambungan edisi yang lalu

Memang tak akan menjadi sunyi dan asing, memang tak akan menjadi sekedar basa-basi sekedarnya. Anita, Ave, dan Amara hidup dalam garis dan tulisan hidupku. Lalu lelaki Rinjani ini yang sudah sekian lama berkelanan mengembara kini kembali, dan dia menjadi himpunan dari segala yang bertautan dengan kami. Sempat mengira aku mengalami halusinasi yang berlebihan gara-gara kopi, secangkir whisky dan pagi gerimis. Tapi ini semua nyata. " Aku mengantuk Anita, aku ingin tidur silahkan jika kau mau mengobrol dengan Rinjani. Aku ingin tidur " aku tiba-tiba ingin meninggalkan semua keanehan ini dengan tidur. " Silahkan saja Ndre, nanti saja sesudah kau tak lelah kami akan bercerita padamu."

***

                Lalu aku tertidur dengan paket kejutan di pagi yang benar-benar mengguncang bait-bait elegi yang menyesakkan ruang di dalam dada yang sudah penuh sesak. Penuh sesak dengan segenap emosi yang dihadirkan Anita dengan pertemuan yang masih hingga kini kuyakini tidak tanpa sebuah alasan. Lalu kedatangan lelaki Rinjani ini seolah membongkar kembali serangkaian cerita tentang perempuan berjilbab abu-abu. Cerita yang ingin benar-benar kupendam bersama kabut dan dingin Merbabu. Meski justru semua ini kuyakini pasti justru membuat dia semakin abadi.
                Ada bait-bait dan selalu ada bait-bait yang tidak pernah tersampaikan dengan mudah setiap kali berbicara tentang Ave. Bahkan setiap liku yang berkait dengan kehidupan yang dia jalani, yang memang tidak sempat ku kenal lebih jauh. Tapi setidaknya sebagaimana sebuah lakon, episode tentang dia adalah salah satu yang membuat cerita ini menjadi sebuah cerita, meski untuk menyampaikan tentang dia memang tidak mudah. Seperti tidak mudah pula untuk menakar sesuatu yang dia sembunyikan di balik kabut. Untuk menembus kabut itu perlu sebuah keberanian dan kekuatan. Aku tak punya cukup waktu untuk menembus kabut itu dengan sebuah keberanian dan kekuatan. Dalam lokomotif serta serangkaian gerbong yang kubawa, penuh berjejal-berjejal penumpang, yang mana semua energi telah habis untuk menjaga laju kereta. Walaupun dia duduk dalam kereta ini pun, tak cukup waktu untuk berbicara kepadanya. Menjaga laju kereta terasa lebih sakral. Daripada menembus kabut yang memang tidak jelas ujungnya, walau di ujungnya aku yakini ada sebuah hati yang indah untuk disinggahi siapa saja.
                Termasuk lelaki bernama Rinjani yang dengan segenap keberanian ini pernah singgah di hati itu. Aku tak pernah tahu bagaimana cerita senyatanya. Bahkan dari getir yang pernah sedikit terucap dari mulut Ave pun tak pernah menjelaskan siapa sosok ini. Hanya getir yang bisa kutangkap, dan bila kuartikan lebih jauh maka getir ini adalah buah cinta mendalam yang dengan susah payah dikubur pelan-pelan. Begitulah, seperti telah berulang-ulang kuceritakan tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang lelaki yang tak pernah sadar akan bangunan yang sudah dia ciptakan pada sebuah hubungan dan setelah semua ambisinya penuh utuh dalam bangunan itu dia bisa dengan ambisi yang lain bisa segera membangun bangunan lain di hati yang lain pula.
                Berhenti di titik ini, titik dimana lelaki akan dipandang sebagai penjahat yang memang pantas dikutuki karena dosa-dosa atas kejahatan terhadap wanita. Tapi semua orang pun bisa menjadi penjahat itu, tak peduli dia wanita atau dia lelaki. Jika semua karena cinta maka karena cinta bukan sebuah bilangan ataupun angka, ataupun suatu rumusan pasti yang terikat pada hukum-hukum yang mengatur gerak dan hidupnya. Karena cinta bukan hanya sebuah kata yang menyederhanakan makna, walau pada akhirnya cinta hanya akan berakhir sebagai sebuah kata yang memudahkan kita untuk bicara. Maka lalu cinta bisa menjadikan kita sebagai penjahat tapi mencintai tak pernah jadi kejahatan. Kitalah penjahat, yang akan menjadi bidak-bidak catur yang bermain dalam urusan warna hitam putih. Sementara itu pun kita tak pernah bertanya mengapa Raja hanya berjalan satu langkah seperti kita sering tidak bertanya ataupun bertanya tapi tidak pernah menemukan alasan yang tepat untuk jatuh cinta.
                Aku bahkan tidak pernah mengerti alasan Rinjani untuk meninggalkan wanita seperti Ave. Yang aku semakin tidak mengerti adalah alasan mengapa keduanya jatuh cinta. Untuk ini sampah-sampah psikologis yang akan berkata bahwa lelaki akan berpikir dengan logis dan wanita berpikir menggunakan emosi dengan mudah akan kubuang ke tempat sampah. Tetap ada hal-hal yang tidak bisa kita terima secara logis dan tidak ada kata emosi yang tepat untuk menggambarkannya. Perpisahan pun bagian dari pertemuan, yang tentu sudah kita pahami akan terjadi. Tapi pada akhirnya pun kita terluka, bukan karena perpisahan itu, tapi lebih banyak karena cara perpisahan seringkali tidak bisa kita terima dengan logika dan emosi. Hanya karena kita tidak terima dan ada sesuatu yang tidak sesuai kehendak kita, sementara sebenarnya kita pun pada akhirnya hanya akan melakukan sesuatu sesuai kehendak kita.Ahh, bahkan aku pun tak mengerti mengapa, dan semoga memang tak seharusnya untuk mengerti mengapa. Karena bagiku jika semua kita ketahui, maka hidup ini tak lagi menjadi misteri dan tanpa misteri apa serunya menjadi hidup? Ya sudahlah.

***

            Ya sudahlah, frasa yang aku pilih menutup paragraf tentang pikiran-pikiran yang berkelana dalam otakku. Seperti sebuah pernyataan menyerah kalah, seperti mengamini baris terkenal dari Charil, hidup hanya menunda kekalahan. Kalah bukan kata yang tepat sebenarnya. Pasrah mungkin lebih tepat meski pasrah pun sangat dekat dengan menyerah. Ya sudahlah, ya sudahlah kadang ada sesuatu yang tidak perlu kita panjangkan dan susah payah kita maknakan dan kita artikan. Cukup biar begitu saja. Inilah yang kurasa ketika, lelaki Rinjani ini bersama dengan Anita, Ave dan Amara ternyata memiliki sebuah hubungan yang bahkan tak pernah seorang setan pun bayangkan.

            Dalam mimpiku pun aku mencoba untuk berpikir. Meskipun dalam berpikir pun aku bermimpi. Tapi kali ini dalam tidur pun, pikiran dan jiwa ini bersintesa. Entah semuanya menjadi serba entah. Aku terlalu takut menduga-duga. Bahkan aku berharap dengan harapan paling radikal adalah ketika aku bangun nanti yang kutemui adalah aku telah bangun di sebuah tenda camping dan teman-teman sedang memasak nasi di luar, untuk sarapan pagi sebelum mengarungi sungai Serayu. Atau mungkin aku berharap beberapa gelas Whisky yang kuminum tadi akan membuatku masuk ke lorong waktu yang tidak mungkin ada di dunia, karena dunia ini pun tidak nyata seperti Rinjani, Ave, Amara, dan Anita. Tapi semua itu tidak mungkin terjadi. Ya sudahlah, maka hadapilah kenyataanmu.


***

" Ndre...! Ndreee... " suara Anita mengguncang tubuhku. Putih semua yang kulihat hanya putih dan wajah Anita menepi di sana. Aku tidak lagi di ruangan hotel. Sesuai harapanku, aku bangun tidak di tempat yang sama. Tapi terlintas tanya dalam diriku, aku ada dimana " Dimana ini?" tanyaku pada wajah Anita. Yang segera saja udara wajahku penuh dengan bayangan lain. " Rinjani? Kau ada di sini juga. " semua berbaju putih yang ada disini. Seperti terdengar suara angin lautan yang begitu mendamaikan. Deburan ombak dan aroma matahari. Apakah ini surga? tanyaku dalam hati. " Baguslah kamu sudah sadar. " tenang dan dingin Rinjani berkata. Seketika pula aku mulai memahami kembali detil ruangan ini. Ini masih kamar hotel yang sama. Masih dengan Rinjani dan Anita, masih ada tersisa setengah botol Whisky di dekat lampu tidur. " Kamu menggigil dan mengigau sepanjang kamu tidur Ndre, kami sempat panik dan mengira terjadi apa-apa denganmu." jawab Anita. " Mungkin lebih baik aku cuci muka dulu saja. " aku beranjak dari kasur dan menuju wastafel di kamar mandi. Anita pelan mengikuti ke kamar mandi. 

Kulihat cermin besar di wastafel. Aku melihat diriku dengan utuh. Lalu ku buka keran. Kubasuhkan perlahan ke mukaku. Perlahan kututup mataku. Ketika kubuka kembali di belakangku sudah ada Anita. Berdiri di belakangku dan tersenyum. " Kamu kehilangan sesuatu Ndre?" tanyanya. " Kehilangan sesuatu?" aku kembali bertanya masih dalam kondisi setengah sadar. " Apakah kamu belum membuka matamu kembali? Apakah kamu bahkan tidak bisa melihat ke dalam dirimu?" jawabnya yang sejurus kemudian membuatku tergugah, bahkan wanita ini bisa melihat apa yang tak bisa kulihat dalam diriku. " Tidak Anita, tenang saja aku tidak kehilangan sesuatu karena bahkan aku tidak pernah memiliki sesuatu." ku jawab pelan. Lalu dia mendekat, sekarang dia ada di sampingku. Memandang cermin bersama. " Lihat baik-baik Ndre. " sambil menunjuk ke cermin. " Kau tidak kehilangan sesuatu bukan?" dia menoleh padaku sambil tetap tangannya menunjuk ke cermin, ke arah bayangannya. Aku pun memandang wajahnya. Masih seperti Anita dahulu. Nampak lugu meskipun jika anda percaya dia lugu maka anda sedang tertipu. Wajah yang tidak akan anda percayai bahwa wanita ini hanyalah wanita desa yang lugu dan hanya tahu kasur dan dapur. Lalu wajah itu semakin dekat dengan wajahku. Wajah kami cukup dekat hingga hidung kami saling bersentuhan lalu bibir kami.

-- bersambung.

Jumat, 22 April 2011

Lampu Kota : Kejutan

Sambungan edisi lalu

Lalu aku kembali duduk di balkon, membakar rokokku kembali sembari menahan dingin subuh yang penuh misteri. Menatap kota yang mulai berebut asa. Lampu kota masih bersinar, membuatku tersadar pada banyak yang sudah terjadi sepanjang jalan. Lalu seperti mereka yang menumpahkan impian di jalan, kali ini aku mencoba melihat masa depan. Ketika di subuh yang sederhana ini lalu gerimis tiba-tiba datang. Hatiku mendesir lirih menyebut satu nama, Tiara.
 ***

Jauh memandang ke dalam jalanan yang semakin sesak. Fajar tetap datang walaupun gerimis. Ia tidak pernah tertunda. Tidak pernah terlambat seperti kereta ekonomi. Fajar datang bertabur gerimis yang tersekat oleh udara. Membaurkan antara udara gerimis dan embun pagi. Suasana yang pasti akan membuat tidur akan semakin lelap. Saat yang tepat untuk mengurai harapan. Harapan memang gelap dan tidak pernah kita tahu. Nasib memang bisa diubah, tapi jalan hidup telah ditulis dan digaris.

Apa arti semua pertemuan ini kembali, yang kuyakini adalah bukan tanpa alasan ini terjadi. Wanita yang sedang terbaring di kasur busa kelas satu di hotel berbintang dua. Yang lelap, entah dalam mimpi, harapan, getir atau lelah, tapi yang terbaring di sana bagiku sudah kehilangan jiwa. Walau matanya terpejam, dari aura mata itu akhirnya aku mampu melihat jiwa yang mencoba masuk kembali, meski sang pemilik raga pelan-pelan mencoba membunuhnya. Betapa wanita ini sedang berkhianat pada jiwanya sendiri. Bertarung dengan kenyataan yang teramat menyakitkan yang memaksa jiwanya keluar dari raga. Sebuah aksi bunuh diri rohani yang dia monumenkan untuk mengenang kepergian jiwanya. Hatinya berperang dan perdamaian menjadi anggur darah yang harus tumpah, seperti Drupadi yang menuntut darah Dursasana. Wanita ini menyimpan dendam, hanya saja yang akan dia perangi bukan Dursasana yang bejat, tapi Puntadewa putra Pandu, kekasihnya yang terkasih. Semuanya ini secara sporadis memaksaku, benar-benar memaksaku secara sporadis menerka. Lalu memaksa emosiku  bubar berhamburan.

Wanita ini memang tak sesuci Maryam yang melahirkan Isa. Anak yang lahir tentu bukan mukjizat semacam kelahiran Isa yang lalu akan menjadi juru selamat hari ini  dan seterusnya bagi yang meyakini demikian, atau juru selamat yang akan kembali hadir ke dunia ketika dunia sudah semakin kehilangan tatanan. Anak yang lahir itu adalah anak jadah bagi mereka yang terikat dalam pandangan normatif, tapi itu adalah buah cinta dari sang ibu dan sang ayah. Percintaan mereka mungkin haram, tapi buah cintanya tidak menanggung dosa turunan orang tua. Dia tetaplah makhluk kecil yang suci dan lemah - dan terpaksa harus tegar. Ketegaran yang sama yang harus dihadapi ibu dan bocah itu, ketika kelak nanti sang bocah akan bertanya tentang darimana muasal dirinya, ketika teman si bocah dipeluk oleh ayah mereka, dan dia tidak pernah tahu siapa ayahnya.

Maka bukan urusan dosa dan neraka yang demikian menyiksa batinku kini. Aku percaya adanya surga dan neraka. Tapi aku tak akan mati dengan mengenaskan untuk membom orang-orang kafir demi surga yang dijanjikan pada kita. Untuk mereka yang demikian menggilai surga, bagiku surga akan menjadi sesuatu yang duniawi. Yang penuh nafsu, yang penuh hasrat, yang ambisius, dan segala-galanya, seolah surga adalah sayembara dari Tuhan yang harus direbut. Pada titik point ini maka aku menjadi tidak percaya pada surga mereka. Surga yang tidak pernah ada seorangpun yang membuktikan keberadaanya, bahkan yang mati bunuh diri demi surga pun tak akan pernah datang kembali membawa berita dari surga. Maka surga dan neraka, bukan semata-mata hadiah dari Tuhan. Surga dan Neraka adalah manifestasi dari perilaku kita sendiri. Pada akhirnya memang surga dan neraka akan kita pandang dengan dangkal dan naif normatif jika kita lalu mengira kitalah yang paling pantas dan orang lain tidak pantas. Karena kita pun tidak pernah tahu surga atau neraka yang menjelma di kematian kita nanti. Karena mereka adalah nasib yang bisa diubah, dari hidup yang sudah ditulis dan digaris.

Sekali lagi bukan urusan surga dan neraka yang demikian menyiksa batinku kini. Hanya rasa bersalah yang tiba-tiba menjelma ketika wanita itu membuka mata ketika mataku mulai merah dan aku siap tertidur. Rasa bersalah yang akan menjadi hantu yang menhantuiku seumur hidupku. Maka aku akan menjadi Pandu yang terkutuk, dan mati menyisakan Baratayudha yang tak terelakan. Aku sudah meninggalkan luka dan aku telah dikutuki Anita dan mungkin juga Magda. Atas semua jejak-jejak asmara yang penuh nafsu dan melanggar tatanan. Itulah neraka yang sudah diciptakan padaku, dan olehku sendiri. Neraka yang turut menyeret Anita dan Magda masuk terbakar di dalamnya.Seperti Destarasta, menunggu takdirnya melihat anak-anaknya yang seratus itu mati satu persatu. Bukjan atas kutukan Dewata, tapi atas buah perbuatan yang dilakukan. Maka aku ingin jadi Destarasta yang buta, yang tak pernah melihat kesedihan. Tapi sayangnya aku akan menjadi lebih peka pada setiap kesedihan. Kesedihan yang telah hadir di Anita dan lalu Magda. Maka bagiku memanusiakan manusia adalah cara paling mudah terhindar dari kutukan, neraka, dan karma.

***

" Belum tidur Ndre?" Anita terbangun lalu menanyaiku. Fajar sudah usai, mata sudah berat. " Sebentar lagi mungkin, aku sedang tak ingin melewatkan gerimis dan pagi." jawabku. " ada apa dengan gerimis?" dia mengerti ada sesuatu yang istimewa dari pemilihan diksi gerimis. " kita dulu selalu berbicara tentang tembok air hujan, nyatanya memang tembok itu tak pernah ada. Yang ada memang tembok ratapan yang membuat kita berbeda. Tidak penting ternyata kita berbeda, selama kita masih bisa berjalan bersama. Tapi pada kenyataannya tembok itupun menghentikan langkah kita. Kini aku bicara tentang gerimis, tentang harapan yang gelap yang memudar di gerimis. Tapi dalam gerimis kutemukan Tiara." jawabku. " Jadi itu kisah cintamu?" jawabnya dengan tepat menebak apa yang ada dalam hatiku. " Tiara itu pasti anugrah untukmu." jawabnya dengan senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kali ini entah mengapa aku melihat jiwa yang nyaris dia bunuh perlahan tadi dia biarkan masuk kembali ke tubuhnya. Lalu pintu diketuk perlahan.

" Ah dia benar datang, sebentar akan ku kenalkan kau pada seseorang." lalu dengan tak henti tersenyum dia berjalan menuju pintu, membuka dan meminta seorang lelaki masuk. " kenalkan Andre, ini...." . " Rinjani"  kupotong kata-kata Anita, kata-kata yang penuh aura keterkejutan yang tak mampu ku sembunyikan keterkejutan yang sama yang tentunya dirasakan Ave dan Amara serta Erosz di kantin waktu itu.  " Jadi kalian telah saling mengena rupanya?" tanya Anita. " Ya kami bertemu di gunung Merbabu dan juga dia sekampus dengan Ave dan Amara." jawab Riinjani dengan santai. " oh Andre, jadi kau mengenal Ave dan Amara juga?"  tanya Anita, kini aku semakin tak mengerti dengan semua kejadian ini. " Iya aku mengenal mereka." jawabku singkat. " Bagus kalau begitu jadi memang dalam hiudp kita semua sudah ditulis dan digariskan bahwa kita akan bertemu dalam suasana yang tak akan begitu sunyi dan asing." kata Anita.

Memang tak akan menjadi sunyi dan asing, memang tak akan menjadi sekedar basa-basi sekedarnya. Anita, Ave, dan Amara hidup dalam garis dan tulisan hidupku. Lalu lelaki Rinjani ini yang sudah sekian lama berkelanan mengembara kini kembali, dan dia menjadi himpunan dari segala yang bertautan dengan kami. Sempat mengira aku mengalami halusinasi yang berlebihan gara-gara kopi, secangkir whisky dan pagi gerimis. Tapi ini semua nyata. " Aku mengantuk Anita, aku ingin tidur silahkan jika kau mau mengobrol dengan Rinjani. Aku ingin tidur " aku tiba-tiba ingin meninggalkan semua keanehan ini dengan tidur. " Silahkan saja Ndre, nanti saja sesudah kau tak lelah kami akan bercerita padamu."

-- bersambung

Minggu, 10 April 2011

Lampu Kota : Padang Ilalang Yang Ditinggalkan

sambungan edisi lalu

Goenawan Mohammad benar-benar menggambarkan sebuah perpisahan dengan demikian haru. Kali ini memang sudah demikian jalan yang dibuat Bathara. Anjasmara harus menerima kepergian Damarwulan, bukan karena keduanya tidak lagi mencinta. Bukan karena keduanya berbeda jalan. Damarwulan harus menghadapi perangnya dan Anjasmara harus menunggu Damarwulan menghadapi perangnya. Meski kematian terasa benar dan nyata. Begitulah, perpisahan tercipta karena adanya pertemuan. Begitulah cinta tersemai abadi, tapi kekuatannya pun tak mampu mengalahkan perpisahan. Begitulah yang jatuh cinta, siap jatuh dan terluka adalah syarat yang niscaya sebelum bahagia.

***

Padang ilalang menghijau kembali tengadah ke udara. Seiring hujan yang merasuk ke dalam tanah menjadi bulir-bulir energi yang menyegarkan. Lalu dalam tanah yang segar itu akar-akar dari ilalang mencari sesuap kehidupan. Maka lahirlah kembali padang ilalang hijau yang merenggut energi hujan, tanah serta matahari. Para pencari ilalang akan segera memetik energi yang susah payah disimpan ilalang ini. Ketika kemudian mereka pulang ke rumah dengan energi dari ilalang, ternak-ternak dengan mata penuh harapan sudah bersorak sorai. Ternak ini menemukan hidup mereka hari ini, meski kemudian beberapa hari kemudian mereka dengan rakus akan dilahap oleh manusia. Siklus.

Padang ilalang yang sama menghampar di hadapanku. Meski tak lagi hijau ketika pagi dahulu kita berjumpa. Tapi tetesan embun masih menetes dari ujung daun yang telah berkali-kali disenggamai matahari. Jejak setapak membelah padang ilalang ini, dan terlukis dengan jelas kaki siapa yang baru saja melewatinya. Menghampar di lembah yang basah dan becek, dan gerimis baru saja  menitik dari mata langit. Bayangkan saja betapa cantiknya padang basah ini. Meski jejak-jejak sudah merebahkan beberapa batang hijau. Tapi selama kita hanya memandangi kecantikan padang ini sebatas pada fisiknya semata maka segeralah kita harus bersungut-sungut beberapa tahun ke depan karena mendapati tempat ini mungkin sudah berubah menjadi gersang. Berbahagialah yang melihat kecantikan itu dari betapa kaya energi yang lahir bukan hanya dalam penampakan fisik yang kasat mata. 

Seorang bayi dalam gendongannya, tidur tenang dalam damai pelukan hangat sang Ibu. Aku masih sangat mengenal sang Ibu. Sang padang ilalang, yang tetap hijau meski aku bisa membaca jelas tapak-tapak yang tertinggal di dalam garis wajah sang bayi. Pertemuan kembali setelah sekian lama perpisahan menjadi jurang luka yang menganga. Perpisahan yang tak pernah terbayangkan jua akan terjadi pada takdirnya. Kisah duka yang tak pernah diketahui awal mula dan tak pernah ketahuan ujung duka. Hanya luka menganga serupa jurang dan setapak yang tertinggal dalam lembaran hati si padang ilalang. Tapi seiring matahari yang mulai bersujud ketika senja mulai diseru oleh bait-bait Maghrib agar segera berganti ke sisi dunia yang lain, aku menemukan serangkaian harapan di pelupuk mata dan wajah polos sang bayi. Pada akhirnya dia membuka selubung luka, luka yang kuyakini pun jua hadir dalam hatiku yang sesudah hujan dan kini gerimis. Dalam suasana itu dia seolah ingin berkata, semua sudah terjadi buat apa mengenang luka.

Senja mempertemukan kami kembali, di sebuah toko buku. Anita nama padang ilalang itu. Kami bersalaman dan seperti biasa dalam normalnya orang Indonesia yang berbasa-basi saling menanyakan kabar. Sembari kami saling memandang dan melihat ada sosok-sosok yang berbeda dengan jiwa yang berbeda pula. Senyum mulai menghiasi wajahnya, jauh berbeda ketika akhir pertemuan kami, wajahnya sayu seolah kehilangan cahaya matahari untuk berfotosintesa di dalam lebar pelupuk matanya yang memancarkan cahaya mata yang bergairah. Kini dia kembali menemukan energi matahari. Lalu dia menyerahkan anaknya kepada seseorang, yang ku tahu dan baru kusadari di akhir setelah kuingat kembal,i dia adalah adik Anita. Seorang lelaki yang kutebak kini sudah mulai masuk ke awal semester kuliah. Lalu Anita mengajakku turun ke sebuah restoran yang menjadi satu dengan toko buku ini. Lalu duduk di sebuah bangku di pojok yang dekat dengan kaca sehingga dengan puas kami bisa memandangi harapan-harapan yang menghampar di jalanan Jogja malam ini. Lama kami saling memandangi dan tak tahu harus berbuat apa. 

" Kau masih ingat Puisi Sapardi, Ndre?" dia tiba-tiba menanyaiku. " Tentu, ada beberapa yang kuingat." jawabku. " Kau ingat puisi dengan judul Di Restoran?" dia menyebut satu judul puisi, puisi yang jelas aku sangat mengingatnya. " Ya, jelas aku ingat itu." sesudah aku mengucapkan hal itu, pikiranku lalu melayang pada kondisi kami berdua. Aku baru tersadar dia membaca kegelisahan dan rasa sakit yang mengudara. Sementara aku tak mampu membaca apa-apa dari wajahnya. Emosi terlalu berdesak-desakan dalam dadaku. Hanya tunggu satu kata maka semua mungkin akan tumpah. Tapi, Anita masih seperti dahulu. Masih mampu menenangkan dan membaca situasiku dengan seksama. " Kau ternyata tidak banyak berubah Nit, hanya saja aku rasa kau semakin serupa dengan Anne Sexton". Tersenyum terlebih dahulu lalu dengan tetap memasang aura yang meneduhkan "  So I won't hang around in my hospital shift, repeating The Black Mass and all of it. I say Live, Live because of the sun, the dream, the excitable gift. Apa kau kira aku akan mati menggantung? tanyanya seusai membaca petikan akhir sajak Live or Die - Anne Sexton.  Suara dan gaya membacanya, suara dan gaya itu yang selalu membuat ada sesuatu yang bergetar setiap kali aku mendengarnya.

" Ya ku sempat mengira begitu, lama sekali aku tidak mendengar tentang kabarmu. Ku kira kau sudah dihias dan misa Requiem sudah dilakukan atas jasadmu." jawabku. " Dramaturgi kehidupan ini belum mengizinkanku meninggalkan panggung, aku masih lakon yang harus memainkan dialog. Tapi, aku lebih suka menyebut diriku padang ilalang." jawabnya. Pesanan kami datang. Susu Coklat dan jajaran roti-roti donat. Dia yang memesan dan dia pula yang membayar. " Padang ilalang aku ingin rebah di tubuhmu kala embun menetes di ujung daun "  melantunkan sebuah syair, syair yang lama ada di kehidupan kami." Kau masih ingat saja Ndre." jawabnya. " Bagaimana aku mungkin lupa, aku yang membuatnya. Oh tidak, lebih tepatnya kita yang membuatnya." jawabku. Lalu kutatap matanya, hening seperti jiwanya melayang sebagaimana jiwaku sekarang pun melayang.

***

Jogjakarta, Juni 2006.

" Antonius Wisnu, ya dia pacarku kini Ndre ". Kata Anita waktu itu. Aku cukup tahu tentang lelaki itu, yang tidak ku tahu adalah cara berpikir wanita ini. " Apakah kau benar-benar jatuh cinta padanya?" tanyaku. " Apakah kau masih meragukan Padang Ilalang dan segala perasaannya ini?" tanya dia kembali. Harus benar-benar kupahami kata demi kata yang dia rangkai. " Ya, karena aku tahu perasaan si Padang Ilalang bukan untuk Wisnu. " jawabku. " Nah aku demikian paham kan maksudku. Lalu apa lagi yang membuatmu ragu?" dia menangkap keraguan dari mataku. " Karena kita sudah bermain dengan hati dan melibatkan perasaan terlalu dalam. Aku pun demikian paham tentang perasaan Wisnu, dan itu hanya untuk Padang Ilalang." jawabku. " Tapi setidaknya topeng ini bisa kupakai untuk menembus tembok tinggi ini." jawabnya. " Tapi kita sama-sama sedang menanam sebuah perangkap untuk kita sendiri sekarang. " jawabku lalu hening menyeruak.

" Saya terlahir sebagai seorang diri saya, walau pada akhirnya saya memilih Nasrani sebagai jalan agama saya. Tapi apa salahnya cinta pada seorang Muslim? Bukankah cinta tidak memiliki agama?" Jawabnya, memulai lagi topik lawas yang sudah usang. " Iya memang tidak ada yang salah. " kucoba membelai rambutnya, kuyakin kali ini dia akan segera menangis perlahan kucoba menenangkan kegetiran yang sedang dia genggam. " Tapi jika kau bersama Wisnu dan lalu kita tetap berhubungan, itu salah Nit. " dengan terang aku menjelaskan sikapku. " Lalu mau apa kau sekarang Ndre?" Dia sekarang menyeru, seperti meminta kepastian dari sikapku.

" Aku tidak pernah meminta terlahir, tapi aku terlahir. Orang tuaku seorang Muslim, maka kemudian pun aku menjadi Muslim. Meski demikian pun aku tidak menjadi Muslim semata-mata karena orang tuaku. Agama bagiku dan kuyakin bagimu jua adalah hal yang demikian penting. Maka ini kemudian menjadi perbedaan yang demikian mendasar antara aku dan kamu. Sayangnya, Cinta tidak mengenal perbedaan dan batasan. Maka cinta pun tak mengenal agama sebagaimana kita manusia mengenalnya. Lagipula jika aku dan kamu meyakini agama, tentunya mencintai seseorang adalah sebuah karunia apapun itu agamanya. Sayangnya lagi, kita hidup di masyarakat yang demikian menganggap agama itu sebagai sesuatu yang sakral. Sehingga kemudian kehidupan beragama menjadi suatu ritus yang harus dijaga kesuciannya. Pada akhirnya pun jua agama menjadi demikian eksklusif mengakar pada identitas kita. Anita seorang Nasrani, dan Andre seorang Muslim. Identitas sosial yang dilekatkan menjadi kendali akal bagi kita. Tapi Tuhan tak pernah salah, aku yakin dia menganugrahkan cinta padamu dan padaku tidak semata-mata merupakan takdir yang berujung pahit. Dia menginginkan kita percaya pada yang kita yakini. " Kotbah singkatku.

" Lalu apa maumu Ndre?" tanyanya kembali.

" Jalani hubunganmu dengan Wisnu, dan kita saling melupakan." jawabku singkat.
Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I'm waiting for that final moment
You say the words that I can't say
***
" I feel fine and I feel good
I'm feeling like I never should
Whenever I get this way
I just don't know what to say
Why can't we be ourselves like we were yesterday"  

Aku dan Anita masih duduk di tempat yang sama. Sesudah dia menghabiskan lirik lagu itu dengan suaranya yang selalu menyentuh segenap ruang dalam hati. “ Lalu apa kau masih ingin kita seperti dulu Anita?” tanyaku menggoda.  “ Kau mau?” tanyanya tak kalah menggoda lalu sambil menggenggam tanganku dan pandangan mata penuh harap. “ Berikan aku satu alasan saja untuk bilang aku mau.” Tanyaku sambil menggenggam tangannya lebih erat. Lalu hujan turun di luar, membasahi jalanan kota yang mulai menggeliat dengan cahaya dan lampu kendaraan. Lampu kota pun lalu mulai hidup. “ Mungkin kita bisa melanjutkan pembicaraan ini di tempat lain tidak di tempat ini, bagaimana kamu setuju Ndre?”  tanyanya padaku. “ Boleh saja, tapi bagaimana dengan anakmu?” tanyaku dan aku demikian mengerti kemana dia akan mengajakku pergi. “ Sudah ada yang mengurus tak usah kau pikirkan.”

Lalu aku berdua dengan dia, menaiki sepeda motorku.  Berboncengan kami menembus hujan yang lebat. Pada saat ini aku menyadari dalam tiap rinai hujan ini pernah kusimpan kenangan. Seutas kenangan dimana aku basah kehujanan, sementara si tuan rumah sedang menikmati hidup. Sampai-sampai aku yang ada di sekitarnya basah kehujanan, mengetuk pintunya tidak pernah dibukakan pintu. Lalu aku yang masih setia menunggu di luar pintunya itu tetap saja dengan ikhlas menunggu. Sampai pada saat itu pula lalu anganku melayang kepada saat-saat hujan abu dan bagaimana perempuan berjilbab abu-abu sedang mengisi gerbong-gerbongku dengan muatan yang tak tentu. Atau ketika aku menikmati sebuah pagi yang bermahkotakan tiara gerimis. Lalu ternyata hujan malam ini pun turut menjadi gerimis, kepingan terindah dalam hujan. 

***
Kami sudah duduk di sana, di sebuah balkon kamar hotel di sekitar Tugu Yogjakarta. Kubakar rokokku, malam semakin larut dan gerimis tetap turun. Jalanan masih ramai dengan kendaraan, lampu kota pun masih menyala. Mereka masih memadati jalanan kota di malam ini. Mungkin mereka sedang memimpikan sesuatu, mungkin mereka sedang memikirkan sesuatu. Itulah jalanan, sebuah cara mereka mencapai tujuan. Beberapa orang meski di malam gerimis tetap nampak bermain dan asik mengabadikan diri mereka dengan  Tugu Yogjakarta. Lambang simbolik, buatan penjajah Belanda yang dibangun sebagai ganti Tugu Golong Gilig buatan Kraton yang runtuh oleh sebuah gempa besar di sekitaran tahun 1800an.

Secara mitologis memang Tugu Jogja atau tugu Pal Putih yang ada sekarang ini memang masih dikaitkan dengan garis kosmologis Yogyakarta.  Sebuah garis yang menjadi nadi kehidupan Yogyakarta, yang menjaga hubungan antara Gunung Merapi dan segenap kekuasaaan mitologis di Utara.  Tugu Pal Putih yang mungkin memang sengaja ditaruh di sana sebagai lambang pengganti dan tetap menjaga cerita mitologis itu abadi. Lalu Kraton yang berada di tengah yang lalu disambungkan dengan Panggung Krapyak dan semakin ke selatan akan langsung berhubungan dengan Laut Selatan. Dengan  Ratu Kidul dan segenap variasi cerritanya dipercaya ada oleh hampir semua masyarakat pesisir Jawa Selatan, sebagai penguasa Laut Selatan. Kisah mitologis yang bagiku adalah sebuah pertunjukkan atau isyarat yang demikian luar biasa. Inilah pertunjukkan yang mempertontonkan pada kita umat intelektual baru yang dijejali dengan dogma-dogma Arab dan Barat untuk tidak pongah dan takabur dengan apa yang sudah mereka baca dan dapatkan dari Arab dan Barat.

Harmoni alam, mungkin aliran semacam ini banyak berkembang di Asia Timur, dengan garis filsafat mereka yang jauh dari pola pikir perang ala Arab dan Barat yang menghabiskan waktu bertempur bertahun-tahun dengan embel-embel perang suci, perang Salib atau apapun namanya itu. Perang yang kemudian menghabiskan waktu mereka bertahun-tahun untuk saling membinasakan dan menghabisi secara ilmu pengetahuan, agama, maupun mental. Perang yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi dan kini pun beberapa pihak masih menganggap perang ini belum selesai dan akan selalu menjadi unfinished war.

Tapi orang Asia Timur, hidup di alam lingkungan yang lebih damai dari barat. Alam yang hijau yang penuh dengan kedamaian dan sifat-sifat yang tanpa memaksa mampu membuat orang dengan kejernihan hati dan kecerahan pikiran mampu menilai dan merasakan apa yang terjadi pada alam. Kearifan, Kebijakan, dan ilmu pengetahuan yang muncul adalah dari kedamaian. Meskipun perang pun juga terjadi, tapi bukankah perang itu sesuatu hal yang memang sudah diprediksikan oleh malaikat ketika manusia akan diciptakan.  Sehingga pun perang tetap ada, tapi pengetahuan mereka akan perang pun lahir dari kedamaian. Yang akhirnya pun melahirkan agama-agama yang memiliki sebuah ajaran-ajaran yang sebenarnya penuh akan nilai-nilai kedamaian. Seperti Budha yang mengajarkan jalan menuju nirwana dengan tidak mengumbar nafsu di dunia atau Hindu yang memandang hukum karma dan hubungan dengan kosmos yang harus penuh dengan harmoni.

Bayangkan bedanya dengan cara berpikirr orang-orang Barat yang harus bertarung dengan masa kegelapan dan barbar untuk mencapai pencerahan dengan cara yang keras. Sementara orang Timur, tidak pernah mengalami kegelapan dan sejak semula kehadirannya mereka ini sudah tercerahkan. Maka kepongahan Barat akan agama dan mistisme adalah cara berpikir logika manusia, yang harus dengan susah payah keluar dari masa kegelapan. Sementara yang tidak pernah tergelapkan maka memiliki cara berpikir di luar logika, yang mampu melihat apa yang tidak terlihat dan merasa apa yang tidak terasa dan di sanalah mereka bisa melihat kebenaran dengan cara yang demikian tidak tersentuh logika.
Itulah yang saya kagumi dari mitologis dan kisah-kisah yang berhubungan dengan tempat dan alam. Mitologis garis Merapi – Kraton – Laut Kidul, yang sebenarnya adalah sebuah pesan yang harus dipikirkan dengan hati yang jernih dan lepas dari cara berpikir orang-orang tergelapkan dan lalu tercerahkan.

***

“ Melamunkan apa kamu Ndre?” tanya Nita sambil menggengam tanganku membuyarkan lamunanku akan kehidupan yang menjelma di garis mitologis ini. “ Tidak apa-apa, hanya sedang menganggumi malam gerimis dan lampu kota yang demikian indah.” Jawabku. “ Lampu Kota.” Hanya kata itu yang dia  ucapkan setengah berbisik. “ Ya Lampu Kota.”  jawabku dan aku demikian memahami mengapa nadanya setengah berbisik dan sepenggal fragmen hujan di suatu malam dimana kami duduk di bawah Lampu Kota menggenggam payung dan duduk bersama. Di pinggir jalanan dan orang yang berdesak-desakan ingin segera bermimpi tapi kami sedang membangun mimpi kami sendiri, menyatukan sebuah  hubungan yang berbatas pada sebuah tembok.  Tembok yang pada akhirnya akan menjadi sebuah tembok Ratapan, dimana kami akan melakukan peribadatan duka kami. Tapi hujan selalu membuat kami optimis, tembok itu akan menjadi tembok air yang akan dengan mudah kami sentuh. Bahkan kami akan menjadi hujan yang akan terus mengalir hingga ke samudra muara dari segala perasaan yang ada.

“ Lalu bagaimana hidupmu sekarang?” tanya Anita kepadaku dengan  tatapan penuh tanya. “ Kamu tidak akan percaya dengan apa yang terjadi padaku.” Jawabku. “ Demkian juga kamu tidak akan percaya dengan apa yang terjadi padaku.” jawabnya dan aku melihat air mata terurai perlahan dan tiap uraian air mata itu membacakan sebuah puisi.

Kau tahu akulah gadis puisi,
yang dalam setiap kisah hidupku, adalah bait kesedihan yang kau baca dengan biasa saja.
Kau tahu akulah gadis puisi,
Yang dalam setiap kisah hidupku, adalah rima yang tak pernah selesai kau baca dengan duka.

“ Sepeninggalmu, lalu aku bersama Wisnu. Dari awal, kita sama-sama tahu. Aku tak pernah mencintainya. Sebuah hubungan yang jelas masih kulakukan dalam bayang-bayang tembok air hujan yang kita impikan. Kau tahu, betapa Wisnu mencintai aku meski semuanya tak pernah berbalas dengan sempurna.  Aku yakin cintamu padaku kalah besar dengan cinta Wisnu padaku. Karena tak pernah dia membalas perbuatan terkutukku dengan tak pernah bersungguh-sungguh mencintainya dan menjalani hubungan yang penuh dengan pura-pura ini, dengan kejahatan atau perbuatan yang tidak menyenangkan. Dia selalu menerimaku apa adanya, termasuk menerimaku yang tak lagi sempurna. Dia yang selalu mengerti aku, tapi aku yang tak pernah mengerti dia. Aku adalah orang jahat yang bodoh yang akhirnya mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Bermain-main dengan perasaan yang ternyata sungguh menyiksa. Hingga pada akhirnya, kami berbicara di suatu malam bulan purnama. Yang kau pun tak akan pernah membayangkan betapa indahnya malam itu. Di sebuah gubuk, yang dia bangun berbatasan dengan sawah yang masih hijau dan diairi air. Suara air begitu gemericik, menambah teduh suasana. Kami berbicara, pada saat ku tatap matanya kali ini dengan lebih tajam dan tanpa pengingkaran bahwa dia bukan lelaki yang kucinta. Malam itu aku menemukan semua negasi dari semua perasaanku padanya, pada tembok hujan yang kita impikan. Aku menemukan sepotong mata dan hati Bunda Maria dari sorot mata Wisnu yang memancarkan cahaya rembulan. Lelaki suci ini di malam yang berhias cahaya bulan dan suara kodok sawah serta tertawa jangkrik yang nakal, akhirnya dia berhasil merenggut hatiku. Menarik diriku dari tembok hujan dan menyucikan dan membaptis diriku kembali dalam liturgi cinta yang dia rituskan dengan demikian hati-hati. Aku akhirnya menerima roti dari tubuh cinta yang dia bagi. Pada malam itu aku menyerah menangis di pelukannya. Kali ini dia bertahta atas cinta dan atas tubuhku sepanjang malam. Dia memetik buah kesabaran dan cinta yang tulus.”

Ceritanya yang demikian panjang, sambil memandangi jalanan yang tampak mulai sepi dan aktivitas Pasar Kranggan di waktu pagi tampak mulai menggeliat. Aku menatapi wajahnya melihat getir yang demikian dalam, getir perasaan yang tak pernah kulihat. Bahkan ketika aku pergi meninggalkan Padang Ilalang ini. Pergi menuju arah yang tak pernah kutahu akan kemana aku setelah ini, setelah sekian dosa tercipta. Menyadari betapa dalam perasaan yang pernah terjadi antara kami. Meninggalkan ternyata juga tak semudah dan sekejam kelihatannya. Meninggalkan tentunya juga harus turut menyimpan luka dan dendam, sedemikian dingin cara seseorang meninggalkan kekasihnya pastilah ada makhluk di sudut hatinya yang tergolek terluka. Apalagi bagi mereka yang ditinggalkan, luka menganga seperti jurang yang terbentang bisa hadir. Hal demikian tentunya tergantung bagaimana dan seberapa kuat perasaan yang diolah dalam sebuah hubungan. Akan tetapi luka pun bisa menjadi bagian yang indah yang tak pernah luput tersemai dalam kenangan.

" Lalu setelah itu tentunya kalian hidup bahagia kan Anita?" tanya mencoba mengurai kegetiran yang kusimpan rapat-rapat dalam lemari es hatiku yang mendadak dingin. Dia hanya diam, matanya seolah memaksaku untuk membaca puisi yang dia tulis di getir cahaya matanya.

Aku menantangmu untuk membaca kata-kata yang akan kutulis, di lembaran cahaya mataku
karena aku tak pernah tahu kita akan berjumpa kembali, meski bukan sebagai kekasih lagi
tapi kini kita berjumpa dan aku menantangmu untuk tahu apa masih ada jiwa di cahaya mataku.

Yang kusadari diakhir dari pertanyaan di atas adalah bahwa aku luput memperhatikan isyarat yang selalu dia mainkan dari awal. Isyarat yang pada akhirnya menyadarkanku dia telah kehilangan jiwanya. Sorot mata yang dahulu begitu terlihat terang menyala, walau kadang sendu seperti lampu kota. Kini terlihat kosong. Ah, kenapa bagian yang ini terlewat dari mataku. Aku mengumpat dalam hati atas emosi yang terlalu meledak-ledak hingga hal terpenting dari aura dirinya tidak mampu kubaca. Aku hanya diam menunggu dia melanjutkan ceritanya.

" Ya seperti yang baru saja kau sadari. " telak dia menikamku dengan kata-kata penuh keyakinan bahwa aku telah salah membaca cerita yang dia tulis, kalah karena dia masih bisa membacaku sementara aku yang pernah sedemikian mengenali setiap lekuk emosi di aura matanya kini semua itu hilang. Larut dalam emosiku sendiri, tentang pertemuan dengan padang ilalang ini kembali.


membinasakan dan melebur daku jadi abu

Bukan kegelisahan dahsyat yang hendakkan
semua itu. Bukan siksa menunggu yang menyuruhku.
Tapi kurindukan kemenangan-kemenangan, kemenangan
yang mengalahkan kecut hatiku.


Karena memang kutakutkan selamat tinggal
yang kekal. Seperti bila dari tingkap ini
kuhembuskan nafasku dan tak kembali
tanpa burung-burung, tanpa redup sore di pohon-pohon
tanpa musim, tanpa warna, yang menyusup
kulit tubuhku. Juga tanpa laut, yang
jauh menyimak matahari, rimba dan hewan-hewan meriah.

Seperti bila langit dan titik-titik bintang
yang halus pun raib bersama harummu, perempuan
dalam telanjang dini hari


Pada akhirnya kita
tak senantiasa bersama. Ajal

memisah kita masing-masing tinggal.

Dalam hening, yang semakin mendesis dari udara pagi buta. Deklamasi sajak, sajak Goenawan Muhamad, yang penuh getir penuh kecemasan dan menusuk rasa. Bibirnya mengeluarkan air mata, dan matanya mengeluarkan kata-kata. Aku larut terurai, dalam serpihan perasaan dan jiwanya yang menjadi embun demikian dingin. Kini aku yang menjadi padang ilalangnya dan dia rebah dalam tubuhku menjadi embun yang demikian dingin. Kupeluk tubuh yang sedang mencoba mengumpulkan getir-getir embun pagi buta. Kucoba menjadi padang ilalang, tempat dimana dulu pun setiap embun pagi buta menjelma aku rebah dan mengudarakan cerita dan khayalan. Menghangatkan pagi dengan bermimpi. Dia selalu bisa menyalakan api itu. Tapi kini bahkan aku hanya punya sebatang korek, tapi aku tak bisa menyalakannya.

" Lelaki itu datang dan pergi, tanpa mereka sadar bahwa mereka sudah meninggalkan sesuatu yang bisa teramat menyiksa wanita. Aku memang tak bisa setegar Anjasmara melepas Damar Wulan pergi untuk perang yang jelas dia akan kalah. Aku adalah Banowati yang selalu dan selalu saja menganggumi Arjuna, lelaki yang tak pernah mencintainya. Tapi dengan segala yang dia miliki dia bisa membuatku memberikan segalanya.  Aku tak akan menyalahkan Wisnu, yang harus menjalani perangnya. Hanya aku yang tak siap melepaskan dia ke medan perangnya, hanya aku yang tak bisa mengikatnya dengan perasaan yang kutawarkan. Karma atas semua perlakuanku padanya, atas cinta yang datang terlambat. Lalu mekar ketika si penanam sudah tak mau memetik, lalu untuk siapa bunga ini? Akhirnya dia layu di tangkainya. Ketika si pemetik, tiba-tiba menemukan padang bunga yang demikian indah yang memaksanya untuk memetik bunga itu. Memaksa mungkin bukan diksi yang tepat, dia menganggumi bunga itu yang lalu dia petik. Ini hanya permainan waktu. Tentang teorimu, perpisahan dan pertemuan. Pertemuan Wisnu dengan bunga itu, adalah pepisahan bagiku. "

Kali ini hatiku menggelar sebuah mahkamah. Persidangan, aku duduk di kursi pesakitan dan hakim bernama nurani dengan wajahnya yang lembut bertanya padaku " apa yang sudah kau lakukan atas wanita itu? ". Sementara jaksa telah usai menuduhkan kejahatanku. Tak ada yang membelaku kecuali diri dan keyakinanku sendiri. Kembali si hakim dengan tetap masih memasang wajah teduhnya, " lihat apa yang telah kau lakukan pada wanita itu. ". Aku melihat kepada seorang saksi. Yang sedang rebah kupeluk yang kini aku mulai bisa merasakan hangatnya, memang dialah pemantik dari sebatang korek yang kupunya. Dia membakar api unggun, yang berisi antara getir, asmara, dan kisah pahit. Aku hanya bisa tertunduk di depan mahkamah, di depan persidangan yang tidak perlu dilakukan atas segalas kejahatanku. Karena memang ada sesuatu yang mereka biasa menyebutnya karma, sebagaimana kisah Ramayana yang tak kunjung berujung sampai karma di dunia ini usai. Pembalasan memang akan terjadi,  tapi pembalasan tak akan menjadi adil bagi semua. Karena pembalasan adalah kerugian. Tapi menerima juga bukan pilihan. Maka disanalah maka lalu sebenarnya karma ada bukan untuk merugi atau menerima, tapi untuk menjaga perilaku kita.

Azan subuh menggema, wanita ini sudah tertidur pulas dipelukanku. Kukecup keningnya perlahan sebagaimana biasa kulakukan setiap mengantarkannya tidur. Kubopong wanita ini masuk ke dalam kamar. Kurebahkan dia ditempat tidur, tempat segala semua impian yang tumpah ruah di jalan tadi menemukan tempatnya untuk dibentuk. Kututup tubuhnya dengan selimut hotel berbintang yang terasa mewah ini.

Lalu aku kembali duduk di balkon, membakar rokokku kembali sembari menahan dingin subuh yang penuh misteri. Menatap kota yang mulai berebut asa. Lampu kota masih bersinar, membuatku tersadar pada banyak yang sudah terjadi sepanjang jalan. Lalu seperti mereka yang menumpahkan impian di jalan, kali ini aku mencoba melihat masa depan. Ketika di subuh yang sederhana ini lalu gerimis tiba-tiba datang. Hatiku mendesir lirih menyebut satu nama, Tiara.

-- bersambung

Kamis, 24 Februari 2011

Lampu Kota : Di Saptapratala

sambungan Edisi Lalu,

Yah, sebuah pemaknaan yang terjadi di sebuah pagi. Sembari mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals, kali ini cukuplah Senandung Lirih dan Izinkan Aku Menyayangimu, menggema. Sebelum akhirnya larut bersama orang-orang yang mengejar asa.

Pagi yang rasanya terlalu cepat hadir, jam serasa terlalu cepat memaksakan detiknya bergulir. Sementara bagi yang mencintai malam kedatangan pagi adalah waktu yang tepat untuk segera beristirahat. Tapi bagi para pengejar asa, kedatangan pagi adalah waktu yang tepat untuk segera memulai mengejar asa yang terserak dalam lingkaran waktu matahari. Kehidupan yang terlipat dalam lipatan yang berbeda, yang mungkin hanya akan bertemu dalam titik tengah pergantian pagi dengan siang. Tapi yang sama dari keduanya, mereka menikmati waktu yang bukan milik mereka, dan milik kita.

Menata kembali kehidupan pagi. Membungkus perlahan satu persatu kenangan yang dirangkai langit malam. Yang pagi ini tergeletak tak berdaya di kasur busa yang tak cukup menampung tinggi tubuhku. Jejak-jejak percintaan antara malam dengan kopi serta berbatang-batang rokok tercecer di antara puisi dan lagu yang dimainkan kamar. Ruangan pribadi yang tentunya adalah makhluk yang bisa menelanjangi kita dari luar hingga dalam. Makhluk yang kepada dia kita seringkali mengucapkan terima kasih karena setiap malam dia demikian setia, tidak berkhianat lalu membunuh kita pelan-pelan.

Setelah itu segera mengemasi segala kepentingan, gairah, dan keinginana ke dalam sebuah tas kecil dan sebidang hati. Tas pinggangyang setia menemaniku ini pun telah penuh. Terkemas rapi lengkap dengan aksesoris tambahan gantungan kunci yang kudapat dari perjalanan ke Malang. Segera bersepeda menuju kampus Gadjah Mada yang telah semakin angkuh berdiri. Semakin angkuh tapi semakin murah saja, tenang setidaknya untuk masuk Gadjah Mada kini murah. Asalkan anda mampu membayar seribu hingga dua ribu rupiah dijamin anda masuk Gadjah Mada. Semoga kampus sakti yang nunut di tanah Kraton ini tidak semakin murahan dan tetap istimewa seperti tanah dimana ia tingga. Karena janji Palapa adalah untuk tidak menikmati hal-hal duniawi, meski kurasa kampus ini sudah semakin jauh dari Palapa.

Sesampai di kampus kuparkir sepeda di dekat sekretariat. Lalu seperti biasa duduk  di kantin dulu memesan kopi. Ketika menyeduh beberapa teguk kopi, Amara dari kejauhan tampak datang lalu memarkir motor. Langsung saja dia berjalan agak cepat menuju gedung B. Di belakang langkahnya yang cepat, masa depan sedang membuntuti langkahnya tidak kalah cepat pula. Lalu sesudah itu lamat-lamat sesudah Amara berlalu. Dengan jaket usang warna biru Suryo melangkah perlahan. Sebatang rokok di genggaman jarinya. Berbeda dengan Amara, di belakang laki-laki ini aku melihat bayangan masa depan sedang duduk merokok sambil meminum kopi. Aku lalu mencoba menoleh ke belakang, kuberharap masa depanku baik-baik saja, meski tampak dia sedang sibuk menulis dan membaca sesuatu.

" Ngopi Bos, sebelum kuliah..." pagi itu kebetulan aku akan kuliah bersama Suryo. " Yoh, sakududan ya... " jawabnya dengan frasa yang khas sebelum beranjak mengerjakan sesuatu. Seperti hari senin yang biasa, hanya agak tidak biasa usai temanku ini bercerita panjang lebar semalam. Kisah galau nan labil. " isih pahit po Yok? " tanyaku dalam bahasa Jawa kepadanya. " Yooo, ngene ki lah.....". Lalu setelah itu kami berangkat kuliah meski menemui ketidakberuntungan hari itu kuliah kosong. Lalu diskusi berlanjut di kantin, sambil meminum kopi dan merokok seperti biasa. Lalu setelah itu Suryo pamit. Pamit, seperti seorang Damarwulan akan maju perang.

***
Amara tampak berlari menembus hujan lalu duduk di kantin. Dengan dandanan serba biru seperti biasa. Lalu memesan segelas es teh. Entah apa yang dia pikirkan meminum barang semacam es itu di dalam situasi yang amat dingin ini. Aku berniat menghampirinya ketika langkahku kupaksa harus berhenti. Sesosok wanita lain, dengan dandanan serba ungu datang duduk di depan Amara. Ya, dia adalah Ave yang kemudian berdiskusi dengan Amara.

" Selamat sore mbak, boleh saya duduk di sini?" tanya Ave. " Oh silahkan saja.Kosong kok. " Jawab Amara sembari menata kertas-kertasnya. " Skripsi to mbak?" kembali Ave bertanya. " Iya, ini mau konsultasi. " begitulah Amara menjawab pertanyaan Ave. Lalu sejenak kemudian Eroszz datang " Hai mbak Araaa...!" dia menyapa Amara begitu bersemangat. Terjadilah diskusi di kantin sore itu saat hujan. Sementara aku sembari menunggu Suryo menyelesaikan diskusinya hanya bisa memandangi ke arah meja itu. Karena di meja yang lain, di sebelah sana berkumpul serombongan "api" yang bisa saja membakar kantin itu dengan saling serang kata-kata.

Dalam hujan yang semakin basah itu. Dari arah parkiran berlari seorang laki-laki. Ketika sampai di Kantin ketiga orang wanita yang duduk di meja Amara, berteriak spontan, " Rinjani!". Lalu ketiga wanita itu saling berpandangan, Ave, Amara, dan Erosz. Seolah tidak percaya masing-masing dari mereka sama-sama kenal dengan lelaki itu. Setengah tidak percaya, demikian pula yang terjadi padaku. Lalu bayanganku melayang jauh ke Merbabu tempat dimana aku juga bertemu lelaki itu. Lebih jauh lagi mencoba menyelusuri cerita-cerita Ave dahulu. Lalu aku teringat cerita tentang seorang lelaki yang pernah ada di hatinya. Kemudian menerka-nerka apa yang membuat Amara mengenal lelaki itu pula. Lalu dalam hati kembali berbisik lirih dengan kata-kata andalan yang pernah dikeluarkan Erosz ketika dekat dengan Bisma. " Hanya Mereka dan Tuhan Yang Tahu. " Lalu aku memilih untuk tidur saja sambil menunggu hari ini kembali berjalan Normal.

***

Api di balai Sigala-gala masih terasa menyala di mataku. Aku membawa kanjeng Ibu, kangmas Puntadewa, Adikku Arjuna dan si kembar Nakula Sadewa mengikuti jalan terowongan yang telah dipersiapkan untuk melarikan diri. Kanana dan bayangan bercahaya putih menuntun kami menyusuri lorong itu. Dalam hati, mengumpat dan mengutuk Sengkuni dengan segala kelicikannya yang berusaha membakar kami keluarga Pandhu dalam api Sigala-gala.

Entah berapa lama kami menyusuri tempat ini mengikuti sang sosok putih dan Kanana. Baru ketika kami sampai di suatu tempat yang dijaga pasukan bersisik dan kemudian sosok putih tadi berubah menjadi Barata Narada, dan Nagatmala muncul barulah aku tersadar bahwa goncangan di Hastina mengusik nadi para dewata. Lalu kami menemui sang Hyang Antaboga. Penguasa kayangan Saptapratala. Kami diizinkan tinggal dan dilayani dengan baik. Meski dendam masih demikian menyala di hatiku, akan kurobek Sengkuni dan kukuliti dia ketika nanti sampai pada titik dimana kami bertarung.

Selama tinggal di sini, di kenyamanan Saptapratala. Ada dua hal yang mengusik nalarku. Yang pertama adalah bayangan api Sigala-gala, yang kedua adalah Nagagini yang demikian teduh. Api Sigala-gala semakin menegaskan padaku bahwa Sengkuni dan Kurawa semakin nyata ingin membakar kami hidup-hidup dalam bara. Nagagini, kurasa tak perlu banyak kujelaskan kenapa dia mengusik nalarku yang paling berkesan memang senyum di wajahnya yang selalu membentuk gerimis yang meneduhkan. Ohh, Jagad Dewa Bathara... .

Di taman Saptapratala itu, dengan demikian manis dia Nagagini duduk di sana. Sementara di sisi lain kulihat Arjuna adikku pun seperti tertarik kepadanya. Ku hanya diam saja seperti biasa, tapi entah darimana datangnya ada semacam cahaya yang kuat muncul dari dalam tubuhku. Arjuna melihatnya, lalu perlahan-lahan dia seperti mundur dan menghilang di dalam Kraton. Kali ini kudatangi Nagagini yang sedang duduk di sana, sembari memainkan siter. Seperti gerimis turun di Saptapratala, setiap jemarinya memainkan nada dari sinter. Ketika ku datang dia langsung menghentikan permainannya.

" Salam hormat kepada Raden Bima putra Pandu."  Dia memberikan salam penghormatan padaku. " Oh Dewi Nagagini Putri Sang Hyang Antaboga, tidakkah seharusnya aku yang mengucapkan salam hormat kepadamu, si empunya kerajaan dan tuan rumah yang demikian baik hati melayani kami tamu-tamu papa dari Hastinapura?" jawabku dengan tetap berbadan tegak. " tidak Raden Bima, kamilah yang seharusnya memberi hormat kepada Pandawa. "  jawabnya. " Oh sebenarnya tidak perlu segitunya Nagagini, lanjutkan permainan sitermu biar kudengarkan dari sini." pintaku padanya. Lalu dia memainkan siter, dia petik perlahan. Seperti tadi saat pertama dia bermain, gerimis seperti turun di Saptapratala. Kupandangi terus mata itu, kemudian dia mengurai senyumnya. Aku pun hanya ikut tersenyum, meski dalam hatiku sedang berguguran bunga-bunga hati yang terus menerus mekar. Dia memainkan siter, sambil memandangiku. Tak terasa memang kami saling memandang. Lalu kukumpulkan kepingan gerimis, kubentuk menjadi sebuah Tiara.

" Wahai Dewi Nagagini putri Sang Hyang Antaboga, aku Bimasena. Tidak suka banyak berkata-kata, karena setiap kali aku berkata-kata tidak lebih dan tidak kurang hanyalah untuk menghancurkan musuhku. Kurapal berbagai mantra, untuk menghantam segala perasaan yang membuatku hatiku bergelombang, tapi tetap tak bisa mengalahkan mantra yang kau rapal dalam senyummu yang sudah mengobrak-abrik semua pertahanan dan kekuatan yang kubangun. Lalu kukumpulkan kepingan gerimis kujadikan satu mahkota, Tiara Gerimis ia kuberi nama, maukah kau memakainya di hatimu? Agar Tiara ini senantiasa membuat hatimu menjadi teduh seperti gerimis yang selalu kau petik dan menjadi tanda hati kita menyatu. " Aku menyampaikan semua kegelisahan.

" Silahkan Bima, pasangkan saja di hatiku. " ujarnya pelan. Lalu kurapal mantra untuk memasangkan Tiara ini dihatinya. Usai selesai merapal mantra dan akhirnya terpasang juga. Kupandangi senyum itu, masih tetap senyum yang sama yang tetap saja meneduhkan. Lalu tiba-tiba tanah bergoyang. Oh, aku berandai-andai apakah Sang Hyang Antaboga murka anaknya sudah kupasangi Tiara? Lalu tiba-tiba cahaya terang menghantam mataku dengan amat keras.

***

Yang muncul sesudah cahaya terang itu menabrak mataku adalah wajah Suryo, dan kahyangan Saptapratala yang indah itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah ruangan sekretariat mahasiswa yang berantakan. Suasana menjadi sedikit suram. Sebelum akhirnya aku baru menyadari bahwa aku baru saja terbangun dari sebuah mimpi. Oh Mr. Freud apakah saya sedang merepresi sesuatu hingga kau hadirkan mimpi semacam itu? pertanyaan yang mengudara dalam hati. Hanya sejenak lalu memandang ke dalam aura wajah Suryo. Tak perlu ku lontarkan pertanyaan, aku sudah mengerti apa yang terjadi padanya dengan Keko di senin 14 februari ini.

Lalu kusenandungkan getir Asmaradana,

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang
jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.


Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.


Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada
rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.


Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

Goenawan Mohammad benar-benar menggambarkan sebuah perpisahan dengan demikian haru. Kali ini memang sudah demikian jalan yang dibuat Bathara. Anjasmara harus menerima kepergian Damarwulan, bukan karena keduanya tidak lagi mencinta. Bukan karena keduanya berbeda jalan. Damarwulan harus menghadapi perangnya dan Anjasmara harus menunggu Damarwulan menghadapi perangnya. Meski kematian terasa benar dan nyata. Begitulah, perpisahan tercipta karena adanya pertemuan. Begitulah cinta tersemai abadi, tapi kekuatannya pun tak mampu mengalahkan perpisahan. Begitulah yang jatuh cinta, siap jatuh dan terluka adalah syarat yang niscaya sebelum bahagia.